February
Saya Pernah Ingin Berhenti dari Oriflame
Posted by syafree at 4:44 PM. Placed in Inspirasi Sukses, Mindset Sukses, Motivasi Sukses, Oriflame category
Saya Pernah Ingin Berhenti dari Oriflame
Sungguh, dari hati yang paling dalam saya ingin mengucap terima kasih kepada semua Boss Family yang telah menyebut saya, Sapril yang lemah ini, dengan “The Incredible from Belitung.”
Saya baru dapat berbagi tentang pengalaman mengikuti BOP-sekaligus recognisi 21% senior Manajer saya pada awal Februari kemarin. Maklum, begitu pulang kampung ke Belitung setelah dari Jakarta-Surabaya langsung diserbu tumpukan kerjaan karena saya ijin 2 hari kerja.
Dan ijinkan saya bercerita lebih panjang dari biasanya Tentang pengalaman luar biasa saya mengikuti BOP dan rekognisi 21%. Ah ya, saya akan membaginya menjadi dua bagian; satu bagian untuk ‘masa perkenalan’ dengan Oriflame. Dan bagian yang lain adalah pengalaman ’spiritual’ tsaaah… ketika BOP Boss Family 06 Februari 2010. Read More…
Tags: Bisnis Internet, Bisnis Oriflame, Daftar ORIFLAME, gabung Oriflame, Inspirasi, Komunitas, Mental, Mindset, Motivasi, Pengalaman, Sukses, Uang

Humm, saya banyak mendengar pertanyaan dari teman-teman member Oriflame yang begitu semangat, tentang Bagaimana caranya mengorder produk Oriflame dari luar kota. Maksudnya mengorder dari daerah yang tidak punya kantor cabang.
Ada seorang lelaki sedang berjalan di sebuah setapak. Tiba-tiba ia terjatuh dalam sebuah lubang yang menganga besar di tengah jalan. Dinding lubang itu begitu curam dan licin sehingga dia tidak bisa keluar. Terjebak lah si lelaki di dalam lubang nan gelap itu.
ebelumnya
Seringkali saya bertanya-tanya, apa sebenarnya yang membuat orang-orang melakukan sesuau. Apa yang membuat orang bekerja begitu keras untuk mendaptkan uang. Apa yang membuat orang berdandan begitu menyolok sehingga memancing orang lain untuk merasa iri. Apa yang membuat orang tidak mau mengubah nasih hidupnya padahal dia sendiri merasa tidak puas dengan kehidupannya.
Tulisan ini saya buat setelah saya baca
Suatu malam, saya sedang berada dalam sambungan telepon dengan seorang sahabat lama saya. Kami berdua–sampai ketika saya menuliskan artikel ini–belum pernah bertemu setelah limabelas tahun terpisah. Dia adalah teman SD saya. Ya sahabat, ya teman main, ya saingan ranking, ya teman ultah bareng, pokoknya teman masa kecillah.
Pagi ini, ditengah usaha bertahan dari sisa kelelahan maraton begadang sejak dua minggu terakhir, seorang teman memberi saya sebuah nasehat. Nasehat bijak yang menyegarkan dari Bob Proctor.





