Saatnya Bunda Kerja di Rumah
Posted by Mai | Under Inspirasi Sukses, Motivasi Sukses, Oriflame Tuesday Sep 8, 2009Saatnya Bunda Kerja di Rumah
Tulisan ini saya dedikasikan untuk semua teman, sodara, sahabat, kerabat, para wanita yang berperan sebagai bunda dan wanita berkarir…
Hai Mbak, Jeng, Bunda, Moms,
Masih kerja dari jam 8 pagi sampai sore?
Masih ngantor 5 atau 6 hari seminggu?
Masih harus dinas-dinas luar kota ninggalin keluarga?
Masih ngerjain lemburan di rumah?
Duuhh… sampai kapan, mbak, jeng, Bunda, Moms?
Keluarga itu amanah buat kita, para wanita. Amanah untuk dikelola, dimanajemen, diurusin.
Apalagi kalau sudah ada anak.
Apalagi kalau anaknya masih balita, masih lucu-lucunya.
Coba deh direnungkan,
Masa-masa emas usia anak, siapa yang menemani?
Masa golden age antara 2-6 tahun adalah fase penting dimana pondasi karakter anak tersusun.
Kepengen nggak kita sebagai ibu yang menyusun pondasi karakter itu?
Ayo dong, mbak, jeng, Bund, Moms,
Karakter dan insyaAllah kehidupan anak di masa mendatang bermula sejak pembentukan di golden age fase-nya.
Ayo dong, jangan ditinggalin.
Kasian…
Nggak pengen ngawasin dan memfilter apapun yang diserap anak kita?
Kepengen kan?
Walaupun si kecil aman diasuh sama pengasuh dan baby sitternya masing-masing, tentu bakal lebih menenangkan kalo kita berada di deket mereka.
Sure, saya memang belum menjadi seorang Ibu, Bunda, Mama, Moms..
Tetapi saya sadar sepenuhnya, suatu saat nanti, insyaallah nggak lama lagi, saya juga akan diberi amanah yang sama seperti mbak, jeng, bunda, moms semua.
Amanah yang saya terima dari Tuhan, sama besarnya dengan amanah yang mbak, Jeng, bunda, moms terima.
Saya sangat-sangat menginnginkan fulltime ada di dekat anak-anak saya.
Mengantarkan mereka meniti kehidupannya.
Sampai saatnya nanti, mereka akan dewasa dan siap berlayar mengarungi kehidupan sendiri.
Sebab, saya pernah menjadi anak yang tidak didekat orangtua saya.
Mama saya, tidak punya pilihan lain selain bekerja di luar rumah untuk menafkahi anak-anaknya. Papa saya, sudah berpulang kepada-Nya.
Saya nggak pengen berada di posisi tanpa pilihan seperti mama saya dulu.
Saya mau memilih. Memilih prioritas untuk menjadi fulltime-mom wannabe. Mama saya dulu nggak bisa milih.
Karena waktu itu nggak ada bisnis apapun yang bisa dilirik dan dikerjakan dari rumah.
Makanya saya tulis ini, saatnya deh kita ngerubah mid set alias pola berpikir kita yang sekarang ini cenderung konservatif menuju ke arah perubahan.
Memang saya pun awalnya konservatif banget pengen kerja kantoran, punya titel karier. Tapi lama-lama saya kepikiran juga hal-hal yang tadi udah saya ceritain di atas.
Saya memutuskan bahwa saya harus berubah.
Dan here i am.
Makanya saya mulai merintis bekerja di rumah.
Saya sekarang mulai belajar kerja sebagai pebisnis online. Sekarang sudah mulai berasa hasilnya…walaupun masih sedikit…tapi saya yakin…akan terus bertambah dari hari ke hari…
Mai, realistis, hidup butuh uang. Jangan terlena impian muluk.
Iya. Benar. Karena saya realistis, maka saya menuliskan ini semua.
Saya tahu, sadar, mengerti betul, semuanya perlu uang dalam hidup ini.
Tapi, pilihan mencari uang kan bukan hanya dengan bekerja di kantor mbak, jeng, bunda, moms?
Sebagai wanita, memang kita harus punya ”amunisi”, harus mandiri, alhamdulillah kalau bisa lebih dengan berkarya dan mengispirasi banyak orang.
Tapi kan pendapatan besar nggak melulu dari kantor?
Bisa kok berpendapatan besar dari rumah. Bisa, asal bersedia.
Tapi Mai, ngantor itu sebagai penyaluran eksistensi diri. Kita butuh berkembang, bergaul, sosialisasi, Mai.
Iya. Ngerti. Kita as human being punya kebutuhan eksistensi diri. Punya kebutuhan mengembangkan diri.
Tapi apakah kebutuhan itu sedemikian pentingnya harus dipenuhi hanya lewat berkarir di kantor?
Mau ngantor sampai umur berapa sih mbak, jeng, bunda. Moms?
Kalau kebutuhan atas pencapaian dan prestasi, kebutuhan akan karir dan pengembangan diri bisa diraih di luar kantor, kenapa enggak?
Come on, Mommies..
Renungkan lagi dalam-dalam, apa prioritas hidup kita sebagai wanita sekaligus ibu?
Alhamdulillah, gaji aku udah lebih dari cukup Mai
Oya? Alhamdulillah, deh mbak, jeng, bunda, moms.
Tapi bener semua kebutuhan sudah tercukupi?
Nggak pengen senengin orang-orang yang kita sayang?
Nggak pengen beli belanjaan tanpa mikir dua kali?
Nggak pengen punya uang yang bisa cover up demanding kita sama barang-barang butik?
Make sure you work for something big, big enough to cover your highly demanding taste like me, jadi kalau mau manjain diri beli tas LV atau perhiasan atau gadget mewah atau mobil mewah, nggak perlu minta ma suami.
Nggak perlu juga feeling guilty karena kita habis kalap belanja.
Nggak perlu mikir-mikir kalau mau sedekah.
Ada lhooo yang bisa kasih lebih dari gaji.
Iya Mai. Aku juga pengen kaya gitu. Tapi aku masih butuh gaji nih dari kantor.
Ya udah. Dirintis aja cari bisnis sampingan. Nanti kalau pendapatan dari bisnis sampingannya lebih gede dari gaji, kan bisa replace gaji kantoran tuh.
Merintis dari sekarang nggak sulit kok.
Kapan lagi?
Keburu kita udah agak berumur, trus merasa nggak lincah lagi mau ngapa-ngapain.
Mai, aku sekolah tinggi-tinggi, ilmuku nganggur dong Mai? Masih ada yang butuh kapasitas dan kapabilitasku, Mai. Aku nggak bisa suruh ngganggur.
Oke, oke, paham. Jika kita sangat-sangat demanding akan kebutuhan pancapaian diri dan aktualisasi diri, bisa kok tetap berprestasi dan berkarya dari rumah. Atau pilihlah profesi yang sangat-sangat elastis waktunya. Sehingga, kita tetap bisa menjalankan amanah sebagai ibu untuk anak dan keluarga kita.
Saya nggak pamer ya. Ini hanya contoh.
Saya adalah orang yang butuh aktualisasi diri dan pencapaian. Tapi saya nggak berkantor. Saya bisa tuh, tetap mendapatkan penghargaan nasional dalam rangka Hari Guru Nasional.
Kok bisa? Bisa. Saya bantu-bantu ngajar di TK, sambil nulis buku. Tulisan saya masuk nominasi lomba yang diadakan Depdiknas.
Kalau nggak pengen ilmunya mubazir, kita jadi guru atau dosen aja. Pendidik lah seenggaknya. Jangan lupa explorasi bakat, kalau berbakat nulis, yuk mari nulis buku. Belum berbakat? Nggak apa-apa, belajar dulu yuk nulis lewat blog.
Jadi, sebenernya kamu mau ngajak kita ngapain sih Mai?
Saya mau ngajak mbak, jeng, bunda dan moms sekalian untuk mulai merenungkan apa prioritasnya sendiri.
Kalau pilihannya sama seperti saya, prioritas pertama adalah anak dan keluarga, yuk kita jemput rejeki Allah dari rumah. Kita atur waktunya, kita sesuaikan caranya. Monggo mampir ke site bisnis saya ya.
Kalau pilihannya masih ngantor.
Nggak masalah. Rintis aja bisnisnya, mulai sekarang. Nggak lama kok. Insyaallah, gajinya akan kereplace dengan pendapatan dari bisnis ini. Jadi someday, ketika kita sudah siap resign, kita nggak bingung cari second salary.
Its works, gitu Mai? Ada gitu yang berhasil?
Jalan-jalan sendiri aja ya, ke sini. Atau ke sini deh yang fresh from the oven.
Renungkan ya.
Jelajahi ya.
Colek saya, saya ajarin dapet yang lebih di sini.



Full Time Mom juga cita citaku sejak dulu, masa kecil (golden age) si kecil tidak bisa diulang, alangkah ruginya kita kalo masa itu terlewati begitu saja.
Nice post mbak