Pujian adalah Makanan Positif untuk Ego
Posted by syafree | Under Mindset Sukses Wednesday Oct 14, 2009
Pujian adalah Makanan Positif untuk Ego
Saya sungguh menyukai beberapa orang kawan. Sangat menyukai mereka. Banyak alasan yang membuat saya menyukai mereka. Tapi satu hal yang paling menonjol adalah karena mereka suka memuji—dan tulus.
Berarti saya narsis dong karena suka dipuji?
Kalau memang suka pujian dan penghargaan adalah sebuah bentuk ke-narsis-an, saya bilang tak apa. Karena pujian adalah makanan ego yang positif. Sekali lagi saya bilang, pujian adalah makanan ego yang positif.
Pernah melihat orang yang kekenyangan dengan pujian? Saya tidak.
Semua orang suka pujian. Karena itu orang-orang melakukan banyak hal, bagaimanapun caranya, agar mereka dipuji oleh orang lain. Bagi perempuan, mereka akan membeli pakaian mahal dan bermerek, dan berdandan habis-habisan agar mereka dipuji (sekaligus menjatuhkan ‘saingan’ mereka).
Bagi laki-laki, mereka akan berupaya sekuat mungkin untuk membeli mobil paling canggih dan keren, agar orang-orang menoleh kepadanya. Mereka membeli kemeja branded dan jas tailor made terkenal untuk menegaskan status mereka, dan tentu saja mengharapkan pujian.
Anak-anak selalu berusaha membuat orang tua mereka senang, agar mereka mendapat perhatian dan pujian dari orang tua mereka. Jika itu tidak mereka dapatkan dari orang tua mereka, mereka akan ‘balas dendam’ dengan cara yang tidak akan dipahami oleh para orang dewasa (melakukan kenakalan yang asosial, misalnya).
Dan bagi orang yang sedang jatuh cinta, semua hal yang keluar dari mulut orang yang dicintainya adalah pujian yang melambungkan hati ke langit terindah. Ngaku aja deeehh… yang lagi jatuh cinta ^_^ V
Nah, teman-teman tercinta saya ini adalah orang yang saya tahu selalu memberi pujian yang tulus. Kok tau? Iyalah, kita bisa kok sebenarnya ‘mencium’ pujian yang bertendensi ‘menjilat’. Pujian yang dibunyikan dengan tujuan buruk itu biasanya keluar pada momen-momen yang tidak pas, ‘out of context’.
Pujian yang tulus akan dikeluarkan jika memang ada sesuatu yang ‘pantas’ untuk dipuji. Sesuatu yang baik, prestasi, keberhasilan adalah alasan yang ‘tulus’ untuk memberi pujian.
Kata pak Schwartz, semua orang itu butuh pujian. Tak ada manusia yang tidak butuh pujian. Katanya lagi, “Beri orang pujian, mereka akan mencintai Anda.” Makanya tak heran jika memang ada orang yang ‘gila pujian’, dan orang seperti ini memang cenderung menjadi ‘korban’ bagi para ‘penjahat pujian’ yang tahu bahwa dengan memuji mereka akan mendapatkan keuntungan.
Tapi yang penting dari inti tulisan ini adalah pujian itu dapat meningkatkan prestasi. Pujian dapat melembutkan ego yang cenderung keras dan destruktif. Pujian adalah ‘hadiah murah yang tidak ternilai harganya’. Pujian adalah penghargaan. Pujian adalah pengakuan.
Jika permintaan maaf adalah bentuk kebesaran jiwa yang lapang, maka pujian adalah pohon berdaun lebat meneduhkan dan berbuah lezat.
Sialnya, saya adalah orang yang agak pelit dengan pujian karena saya banyak diajari memaki bukan memuji dalam kehidupan sehari-hari. Bukan orang tua saya yang mengajari, tapi lingkungan tempat di mana saya sekolah, tempat di mana saya makan, bis yang saya tumpangi, televisi yang menemani saya hingga tertidur, rekan kerja yang sedang bad mood. Ah… Anda sekalian pembaca cerdas pasti punya banyak contoh lain yang bisa disebutkan bukan?
Jadi, sebenarnya saya bingung mau memuji bagaimana dengan para pengunjung sekalian yang saya cintai. Ah ya, Saya tersanjung dengan Anda yang sudah setia membaca tulisan ini sampai akhir dan selalu berkunjung ke blog sederhana ini J
Ajari saya untuk terus belajar memuji ya. Cheerz!
Salam Sukses !


