MATI KETAWA DI SEKOLAH NANANG
Posted by syafree | Under Humor Thursday Nov 5, 2009Mati Ketawa di Sekolah Nanang
BELUM CUKUP
Dihari pertama sekolahnya, si Nanang pulang ke rumah dengan wajah yang lesu. Ibunya bertanya tentang keadaan sekolah barunya, “Gimana sekolahnya, Nak? Apa yang kamu pelajari hari ini?”
Si Nanang menjawab malas, “Tak banyak, Bu. Aku harus kembali lagi ke sekolah besok.”
INNOCENT
Si Nanang pulang ke rumah dengan wajah kusut. Dia lapor sama ibunya, “Bu, tadi di sekolah pak guru menghukumku karena perbuatan yang sebenarnya tidak aku lakukan.”
Ibunya marah (kepada guru si Nanang), “Kok bisa?! Itu enggak adil, enggak mendidik. Ibu akan protes ke sekolah besok! Apa sih kesalahan yang tidak kamu lakukan, Nak?”
Si Nanang menjawab pelan, “PR ku…”
JUJUR
Orang tua si Nanang merasa kecewa dengan nilai anaknya saat pembagian rapor. “Satu-satunya penyesalanku atas jeleknya nilai anak kita,” kata pak Tukul sedih, “adalah karena saya tahu kalau si Nanang tidak pernah mau menyontek selama ujian.”
MENULIS DALAM GELAP
Tahu karena orangtuanya sedang tidak begitu senang dengan hasil rapornya si Nanang memutar otak agar rapornya itu bisa ditandangani. Akhirnya dia dapat ide cemerlang.
Menghadaplah si Nanang pada suatu malam kepada ayahnya yang sedang sibuk menulis sesuatu di meja kerjanya. Ai Nanang bertanya kepada pak Tukul. Dengan nada memelas dan memasang wajah yang paling innocent, “Ayah bisa nggak nulis dalam gelap?”
Si Tukul menjawab ringan karena tampaknya pak Tukul sedang sangat sibuk dengan kertas-kertas di depannya, “Kayaknya bisa. Apa yang ingin kau tulis, Nang?”
“Bukan tulisan sih, Yah… cuma tanda tangan di buku rapor ku.”
2 X 3
Suatu sore, si Nanang sedang menonton acara gosip di televisi. Sementara pak Tukul membaca koran. Tiba-tiba si Nanang nyeletuk bercerita kepada ayahnya.
“Yah, tadi di sekolah aku dimarahi pak Zaenal pas ada ujian lisan matematika.”
Ayahnya tak menolehkan kepala dari koran, bertanya, “Kenapa memangnya? Kamu tak bisa jawab po?”
Si Nanang menyanggah pertanyaan ayahnya itu. “Enggak kok Yah, aku bisa jawab pertanyaan-pertanyaan itu. Pak Zaenal bertanya satu soal kali-kalian, ‘2×3 berapa?’ dan kujawab: 6.”
Masih terpaku dengan korannya, pak Tukul menanggapi, “Iya, benar. Terus?”
“Lalu pak Zaenal kembali bertanya “Kalau 3×2 berapa?’”
Tiba-tiba ayah si Nanang melongokkan kepala memandang heran kepada Nanang, “Bajigur! Apa sih bedanya 2×3 sama 3×2?!”
“Nah, itu dia yang tadi saya bilang sama pak Zaenal, Yah. Abis itu aku dipukul pake penggaris.”
SELUSIN KAMBING
Pak Zaenal, guru matematika di kelas si Nanang sedang mengajar. “Misal ada selusin,” pak Zaenal memotong perkataannya dan bertanya kepada semua anak dalam kelas,”berapakah selusin itu anak-anak?”
Murid-murid serempak menjawab, “Dua belaaaas!”
“Ya betul… misal ada 12 ekor kambing. Terus, 6 ekor di antara mereka melompati selokan ke padang rumput seberang. Berapakah sisa yang tertinggal?”
Pak Zaenal menunjuk Nanang untuk menjawab.
“Tak ada, Pak.”
Pak Zaenal heran dengan jawaban si Nanang. Dia marah dan melempar si Nanang dengan sepotong kapur, untung Nanang mengelak dan selamatlah ia.
“Bodoh! Kamu tuh ya, mengurangi 12 dikurangi 6 saja tidak bisa! Sisanya ada 6 ekor kambing!”
Nanang dengan tenang mengembalikan kapurnya ke depan kelas. Lalu berkata lantang kepada pak Zaenal. “Pak. Kambing-kambing kakek saya kalau lagi bergerombol mereka kompak. Satu ekor berlari, yang lain ikut berlari. Sama dengan kambing-kambing dalam cerita bapak, 6 ekor melompat, yang lainnya juga akan ikut melompat! Bapak pernah lihat kambing gak sih?!”
Pak Zaenal menghadiahi sebuah kapur lagi di jidat si Nanang
*tungguin lagi kisahnya si Nanang anak pak Tukul ini yaa…


