Mati Ketawa di Sekolah Nanang (2)
Posted by syafree | Under Humor Sunday Nov 8, 2009
Mati Ketawa di Sekolah Nanang (2)
TUJUH KELINCI
Pak Zaenal masih kesal dengan jawaban si Nanang tentang kelinci di pelajaran matematika minggu kemarin. Lalu guru matematika yang berkacamata tebal dan rambutnya sedikit beruban itu bertanya kembali kepada si Nanang. Kali ini yang dipakai sebagai contoh adalah kelinci.
“Jika di halaman rumah saya ada dua ekor kelinci dalam satu kandang, terus di kandang yang lain ada dua kelinci lagi, lalu di kandang dekat pagar juga ada dua kelinci lagi. Terus semua kelinci itu saya berikan kepadamu, berapa ekor kelinci yang kamu punya sekarang?
“Tujuh!” suara si Nanang terdengar sampai ke pojok ruang kelas.
Gerrrrrr! Seluruh isi kelas riuh mendengar jawaban yang sangat percaya diri si Nanang. Pak Zaenal ikut tersenyum mendengar jawaban si Nanang. Sudah keras, salah pula. Untungnya kali ini mood pak Zaenal sedang bagus, jadi si Nanang tidak mendapat lemparan kapur di keningnya.
“Salah, Nanang… sekarang kita pakai contoh yang lain. Misal, Saya memberimu 2 buah duren, terus saya tambah 2 buah, lalu saya tambah lagi 2 buah. Berapa buah duren yang kamu punya?”
Nanang menjawab cepat, “Enam.”
“Bagus. Sekarang, dengarkan bapak baik-baik. Kita ulang lagi pertanyaannya. Kalau saya memberimu 2 ekor kelinci, ditambah 2 ekor, terus saya tambah lagi dua ekor, berapa kelinci yang kamu punya?” Ulang pak Zaenal sabar.
Kembali si Nanang menjawab yakin, “Tujuh, Pak!”
Pak Zaenal mulai kehilangan kesabaran.
“Nanang! Pertanyaan bapak tadi sama dengan 2 ekor kelinci dikali 3.Gimana sih kamu ini? Bukankah seharusnya kelincimu ada 6 ekor bukan 7!?”
Nanang menanggapi santai. “Bapak tidak tahu sih, Minggu lalu Ayah saya baru membelikan saya seekor kelinci. Jadi kalau bapak ngasih saya enam ekor lagi, berarti kelinci saya sekarang akan ada tujuh ekor Pak… “
Pak Zaenal melongo mendengar jawaban si Nanang yang pe-de itu.
BUMI BULAT
Suatu hari pak Zaenal mengajar sains alam.
“Anak-anak, bumi kita ini berbentuk seperti bola. Bentuknya bulat.” Lalu pak Zaenal bertanya kepada kelasnya. “Bagaimana caranya membuktikan bahwa bumi ini bulat?”
Tiba-tiba si Nanang tunjuk jari.
“Ya, Nanang. Apakah kamu bisa membuktikan bahwa bumi ini bulat?” Pak Zaenal mempersilakan Nanang menjawab.
“Tidak bisa pak. Sebab saya tak pernah menyatakan bahwa bumi itu bulat. Jadi saya tak perlu membuktikannya. Bagaimana kalau bapak saja yang membuktikannya. Kan bapak tadi yang menyatakan kalau bumi ini bulat…”
BLETAK! Sepotong penghapus menghantam dinding di belakang Nanang, hampir mendarat di jidatnya yang nonong itu.
Perahu Nabi NUH
Sepulang pelajaran agama di sekolah, Nanang berboncengan bersama si Joko. Sebab ban belakang sepeda si Nanang sedang bocor. Pelajaran agama mereka tadi membahas tentang perahu nabi Nuh.
Si Joko yang hobi mancing iseng berseloroh kepada si Nanang. “Enak ya Nang jadi nabi Nuh.”
Si Nanang heran dengan kata-kata si Joko. “Kok enak? Emang kenapa Jok?”
“Iya, dengan kapal sebesar lapangan bola, nabi Nuh bisa memancing sampai ke tengah laut dan dapat ikan banyak.”
“Ooh… gitu. Enggak lagi Jok. Nabi Nuh gak mungkin dapat banyak ikan.”
Si Joko heran dengan komentar si Nanang. “Kok bisa, Nang?”
“Iya lah… gimana mau dapat ikan banyak kalo cacing yang dipake buat umpan hanya ada dua ekor…”
“Iya ya… kan di perahu nabi Nuh hanya boleh numpang sepasang-sepasang binatang.” Si Joko pasrah mengiakan jawaban si Nanang.






Ha Ha Ha Ha Buset dah si nanang…
Mas Abu, gimana kalo misalnya mas Abu jadi gurunya si Nanang? hobi ngelempar kapur ga ya? kehkehkehkeh…. Terimakasih sudah berkunjung ya…. Salam kenal.