Mak On, Mak En, Mak Mok
Posted by syafree | Under Inspirasi Sukses, Mindset Sukses Wednesday Nov 11, 2009Mak On, Mak En, Mak Mok
Saya tahu, para pembaca budiman sekalian pasti merasa aneh dengan judul postingan kali ini. Tapi yakinlah, judul tulisan saya kali ini tidak ada hubungan; kerabat, atau bisnis, sama sekali dengan Mak Erot.
Yang sebenarnya adalah, judul di atas saya ambil dari ketiga nama orang bibi saya yang berprofesi sama: Guru. Mereka yang kesemuanya adalah guru SD yang mengajar disekolah yang juga sama, dan ini yang membuat saya merasa aneh, sekaligus rikuh: Mereka adalah murid saya.
Saya sudah cerita sebelumnyaB B bahwa beberapa bulan ini saya mengajar kelas malam di sebuah tempat kursus komputer. Nah, setelah kelas remaja selesai, dimulailah lagi kelas para ibu-ibu yang ditugaskan oleh kepala sekolahnya untuk belajar Komputer. Satu kelas ada orang delapan. Tidak ada guru muda (yang seumuran saya misalnya), semuanya di atas tiga puluh lima tahun.
Bisa membayangkan bagaimana caranya mengajar di kelas yang isinya orang tua, ibu-ibu, yang sebagian besar belum pernah ‘berkenalan’ dengan komputer karena alasan yang sama : takut rusak. Atau ada alasan lain yang cukup lucu, bingung, takut kesetrum, dan sederet alasan lain yang membuat mereka ‘takut’ bersentuhan langsung dengan komputer.
Saya beri gambarannya : “Ibu-ibu sekalian, siapa yang punya komputer di rumah?”
Dari delapan orang, dua orang mengangkat tangan. Ok, lumayan.
“Siapa yang sudah biasanya ngetik di sekolahan?”
Kelas sunyi, tak ada satu orang pun yang mengangkat tangan. Pikir saya, pasti pegawai TU nya adalah anak-jaman sekarang tamatan SMK minimal, saya berpikir positif tentang keadaan sekolah mereka ini.
“Siapa yang sudah pernah megang komputer?” saya bertanya dalam art kata yang sebenarnya, megang=menyentuh, bukan megang=menggunakan.
Ada satu orang yang mengangkat tangan. Ternyat beliau yang mengangkat tangan ini sudah pernah kursus sebelumnya, tapi,”Sudah lupa lagi…” akunya jujur. OK, ga masalah, berarti saya akan punya satu orang ‘asisten’ di kelas saya.
Hemmm… Bakal berat ni, pikirku. Tapi ini tantangan. Menarik nafas dalam, saya berusaha memahami keadaan mereka. Komputer, adalah produk jaman baru. Sedangkan para bibi saya yang guru ini adalah ‘produk’ jaman lama.
Adalah sebuah usaha yang patut saya acungi jempol keinginan mereka untuk meng-upgrade diri. Terlepas dari motif awal bahwa mereka sebenarnya ditugaskan untuk belajar komputer, bukan karena keinginan sendiri (ini lebih bagus, membuat saya bersyukur bahwa setidaknya inilah bentuk perhatian dan kepedulian pemerintah untuk meningkatkan SDM guru kita agar semakin berkualitas).
Aniway, setelah beberapa minggu berada dalam satu ruang yang sama, dan berusaha menyesuaikan gaya mengajar dengan speed 20km/jam (kelas remaja biasanya saya geber sampai 60km/jam).B Saya menikmati waktu-waktu bersama mereka. Kelas yang tak pernah sepi, kelas yang selalu ceria, hampir setiap hari saya seperti berada dalam acara arisan. Fun!
Menyenangkan melihat perkembangan para guru tercinta ini setiap hari. Memandangi, mendengar celetukan excite bila telah berhasil menguasai materi. “Klik star, geser muse, sorot ofis, klik word” Sambung yang lain, “Klik fail, klik open, klik ploppy, klik judul, klik open, sip!” Juga kadang pertanyaan yang diulang-ulang, “Bang–mereka manggil saya begitu, karena saya anak laki pertama, bukan karena saya lebih tua dari mereka–bikin tulisan tebal tek gimana. Klik insert bukan?”
“Bikin tulisan tebal/bold itu tulisannya harus diblok dulu Bu, terus klik format, font, pilih font style-bold. Atau blok tulisan, terus klik huruf ‘B‘ di toolbar atas.”
“Oh B iya, sip!”
Sampai saat ini saya selalu membayangkan bahwa yang namanya guru itu pastilah orang yang “cepat menangkap” pelajaran. Se-ideal itu. Ternyata, guru juga manusia. Yang harus mengalah dengan usia. Kemampuan mereka berkonsentrasi dan mencerna materi tidak secepat para remaja yang tidak memiliki banyak “urusan-rumah-tangga” untuk dipikirkan.
Dan, dari mereka lah saya belajar sabar. Seperti halnya mereka juga bersabar mengajari ketika saya masih setinggi gagang sapu, berseragam putih merah.B Saya tak perlu repot mencoba membayangkan untuk berempati kepada mereka para guru.
Saya berada di posisi mereka sekarang, mengajar seperlima dari jumlah murid yang mereka ajar setiap hari. Seperdua belas mata pelajaran yang mereka ajar setiap minggu sebagai guru kelas. Sepersekian laporan yang mereka buat, karena saya tak perlu membuat soal, rencana pengajaran karena sudah punya modul, kecuali dua kali ujian di akhir menjelang kelas usai dan materi habis. Saya tidak apa-apanya dibandingkan mereka.
Dan saya tidak ingin berpikir tidak adil kepada mereka bahwa anak-anak mereka ternyata lebih ‘menguasai’ komputer (juga hp). Karena anak sekarang adalah ‘anak jaman’ teknologi komputasi copy-paste. Sedangkan mereka adalah ‘anak jaman’ teknologi mesin ketik dan tip-ex yang serba manual. Tak bisa dibandingkan.
Dan saya teringat dengan salah satu tulisan saya tentang Melompat Lebih Tinggi. Mereka, para guru ini, para bibi saya ini sedang meningkatkan kualitas dan menambah value hidup mereka. Melompat lebih tinggi, mengejar anak-anak mereka yang telah ‘terbang lebih tinggi’ dengan sayap yang lebih lebar, lebih halus, lebih kuat, dan lebih canggih.
Saya membanggakan mereka, para guru yang berada dalam kelas saya saat ini. Saya membanggakan para bibi saya ini.
Dan saya yakin, sebentar lagi mereka akan mulai berkenalan dengan facebook, dan meng-add anak-anak mereka.
Selamat datang ibu guru!





