Diprotes Pasangan Karena Menjadi Rata-Rata
Posted by syafree | Under Inspirasi Sukses, Mindset Sukses, Motivasi Sukses Friday Oct 9, 2009
Diprotes Pasangan Karena Menjadi Rata-Rata
Pagi ini, di kantor, saya mendapat pelajaran yang menarik. Tapi sebelum saya mengatakan pelajaran menarik saya itu, saya ceritakan dulu pengalaman saya.
Dulu, ketika awal-awal saya masuk kerja sebagai seorang pns (capeg, lebih tepatnya, dan sekarang juga masing menyandang status itu) saya sedikit kaget melihat ‘pekerjaan’ para pegawai.
Rasanya tidak enak mendeskripsikan pekerjaan para pegawai negeri kepada publik, karena saya sendiri adalah bagian dari sistem besar mereka. (Toh sebenarnya sudah jadi rahasia umum seperti apa sebenarnya kerjaan sehari-hari pegawai negeri). Tapi baiklah ini gambar besarnya; saya datang ke kantor, mengisi absen, duduk diam menunggu (saya biasanya mengeluarkan buku dan kertas bekas print dan mulai membaca dan membuat catatan-catatan penting dari buku yang saya baca). Disela kegiatan membaca saya itu telinga saya menangkap obrolan-obrolan (gosip-gsip lebih tepatnya) dari para pegawai di sekitar saya. Jika ada yang dibutuhkan saya dipanggil untuk mengetik surat ini-surat itu, mencetaknya dan selesai. Saya duduk lagi, diam, atau membaca, atau (jujur saja) main kartu di komputer.
Begitu jam istirahat, saya pulang. Makan siang dan beribadah. Kalau bisa tidur sebentar, saya tidur. Cuci muka dan balik lagi ke kantor. Kemudian mengulang lagi ‘pekerjaan’ seperti tadi pagi.
Begitu setiap hari.
Saya terjebak menjadi manusia mekanis dengan program ‘minimalis’. Dan itu berpengaruh kepada saya. Berpengaruh dengan hubungan saya dengan pasangan saya tercinta yang jauh terpisah. Seringkali pasangan saya itu protes, “Abang kok sekarang jadi ‘aneh’ sih? Tidak se’hidup’ yang Ai kenal..”
Tentu saja saya balik protes dengan perasaan bingung, “Lah, kok ‘aneh dan ‘tidak hidup’? Ga ada bedanya kok Sayang, Abang masih yang dulu. Mencintaimu sepenuh jiwaku.” Protes yang berapi-api dengan bumbu rayuan (gombal kata orang, tapi jujur kata saya). “Apa tandanya coba kalau Abang jadi ‘aneh’?”
“Abang jadi manusia rata-rata. Sama saja seperti kebanyakan orang lain yang membuat Ai tidak tertarik. Tidak punya visi besar dan tidak unggul. Hidup mekanis yang rata-rata. Suka bikin alasan sekarang.”
HADEZIGG!
Saya tidak terima disebut sebagai orang ‘rata-rata’ oleh pasangan saya. Bukan karena saya mengidap sindrom megalomaniak yang gila hormat. Bukan. Pengalaman hidup saya selama ini menunjukkan usaha keras saya untuk menjadi ‘bagian terbaik’ dari entittas dunia. Bukan bagian ‘rata-rata’. Saya belajar sebanyak mungkin. Saya membaca sebanyak mungkin buku dan tulisan dan membagikannya kepada dunia (anda membaca tulisan yang saya bagikan saat ini bukan?). Saya belajar sebisa saya untuk menguasai beberapa keterampilan teknis yang mungkin terlihat tidak dibutuhkan, tapi ternyata fungsional (mengetik, komputer, menulis). Saya belajar psikologi dasar secara otodidak. Saya belajar marketing secara otodidak. Saya belajar pidato dari video-video para motivator yang saya sukai.
Sedikita dari hal di atas menjadi argumen saya untuk membantah tuduhan pasangan saya sebagai manusia ‘rata-rata’.
Diam-diam saya men-‘declare’ perang dingin kepada pasangan saya. Saya tak mau bercerita banyak dengan kegiatan sehari-hari saya. Saya hanya bertekad untuk membalik apa yang ada dalam bayangan pasangan saya selama ini. Saya ingin membuktikan kepadanya, SAYA BUKAN RATA-RATA!
Saya menawarkan diri untuk mengajar komputer kelas malam di sebuah lembaga kursus di dekat rumah. Menyenangkan. Dan keterampilan ‘office’ saya semakin membaik. Banyak hal yan dulu sempat terlupa kini diingat kembali. Yang terpenting, saya sangat senamg melihat para ‘rekan belajar’ di kelas yang tersenyum puas ketika berhasil menyelesaikan tugas.
Saya selalu berusah ikut dalam tim yang diorganisir kawan akrab saya untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan sosial. Seperti yang dulu biasa saya lakukan selama menjadi mahasiswa, volunteer.
Dan saya selalu menikmati ‘diskusi laut’ bersama dengan beberapa kawan dekat setiap pekan. Saya menyebutnya diskusi laut karena kami mendiskuikan beberapa masalah yang cukup pelik ketika berenang di Pantai Tanjung Tinggi.
Saya rela tidak tidur sampai jam dua atau tiga pagi demi ‘mendengarkan’ diskusi bersama dengan beberapa orang ‘sukses’ di daerah saya. (Saya sangat berterimakasih dengan kawan akrab saya karena selalu menyertakan saya dalam acara-acara hal ini). Meskipun resikonya mata saya bengkak ketika berangkat ke kantor karena kurang tidur.
Nah, pagi ini seperti yang saya bilang sebelumnya, saya mendapat pelajaran dari salah seorang guru favorite saya pak David Schwartz Kata beliau, orang-orang tidak ingin dipimpin oleh ‘orang rata-rata’. Orang-orang selalu merindukan ‘orang unggul’ untuk memimpin mereka.
Bayangkan ini, cerita pak Schwartz, ketika Anda naik pesawat, duduk tenang dan memakai seat belt dengan sempurna. Tiba-tiba dari kabin pilot yang tidak tertutup terdengar samar-samar ucapan pilot kepada ko-pilotnya, “Saya sebenarnya tidak yakin dengan kemampuan saya. Saya bukan pilot terbaik, hanya lulusan rata-rata. Saya hanya pilot yang rata-rata.” Apa yang ada dalam pikiran Anda saat itu? Tentu saja Anda gugup dan takut. Jika mungkin, Anda akan membuka sabuk pengaman anda, dan menghambur ke pintu keluar.
Anda tak ingin menyerahkan hidup Anda kepada orang rata-rata, bukan?
Dan para konsumen tidak ingin membeli barang rata-rata, mereka selalu ingin mendapatkan barang ‘unggul’. Dari penjual ‘unggul’ pula.
Begitu juga dengan anak-anak yang orang tuanya hanya ‘orang tua rata-rata’. Karena tidak ada yang bisa dibanggakan dari orang tua yang ‘rata-rata’ para anak itu akan memberontak. Meskipun mereka membual tentang kehebatan orang tuanya di depan anak lain, mereka melakukan pemberontakan kepada orang tua mereka. Malas belajar, kenakalan asosial, bahkan mungkin melakukan tindakan kriminal, adalah sedikit dari cerminanan pemberontakan mereka. Mereka tidak mendengarkan semua omelan yang dikatakan orang tua mereka, karena orang tua mereka hanyalah orang tua ‘rata-rata’ yang hidup dalam ‘jaman’ mereka sendiri, bukan hidup dijaman anak-anak mereka.
Begitulah pasangan saya protes dengan kecenderungan saya yang mengarah menjadi ‘orang rata-rata’ karena saya pindah ke tempat yang banyak ‘orang rata-rata’nya.
Tapi saya bersumpah dengan diri saya. Saya akan mencari sebanyak mungkin ‘orang-orang unggulan’ di sekitar saya. Saya akan belajar keluar dari kerangkeng pikiran ‘rata-rata’. Saya akan belajar ‘menjadi unggul’ dari mereka.
Dan saya yakin, orang unggul itu adalah Anda.
Jadi, tolong beri tahu saya komentar unggul Anda di kotak komentar ya J
Salam, sukses!
* Demi Allah saya tidak ingin menyinggung para PNS dalam tulisan ini. Hanya ingin berbagi pengalaman saja agar saya menjadi lebih baik. Saya minta maaf jika ada yang merasa tersakiti dengan tulisan ini.



kisah yang menarik. Yup.. jangan pernah puas hanya dengan menjadi orang yang rata2
. maaf baru sempet mampir… soale blog ini susah banget loadingnya di tempat sayah karena koneksinya leled nian
Iya mab Quinie, makasi ya uda berkunjung
terus berusaha menjadi yang unggul deh..