maisyafree.com |

Blog Inspirasi Motivasi Bisnis Jaringan Internet
RSS Feed

Berbohong Dapat Mengakibatkan Impotensi*

Thursday Dec 24, 2009

Berbohong Dapat Mengakibatkan Impotensi*

*Teman sekalian akan menemukan jawaban di akhir tulisan.

berbohong Berbohong Dapat Mengakibatkan Impotensi*Kebanyakan, motif orang-oranag untuk berbohong adalah untuk menyelamatkan diri. Entah itu menyelamatkan ‘muka’, agar tidak malu. Menyelamatkan harga diri agar tidak dicemooh. Menyelamatkan diri dari hukuman, karena melalaikan tugas.

Benar kata pepatah, kejujuran itu awalnya pahit, tapi buahnya manis. Kebohongan itu manis, tapi buahnya masam.

Orang-orang berpikir bahwa dengan berbohong dapat menyelamatkan harga diri mereka, menghindari malu, atau terbebas dari hukumuman. Pikiran yang salah.

Sekali orang berbohong, satu derajat harga diri mereka turun. Bukan di mata orang lain, tapi dalam pandangan mereka sendiri. Setiap kali orang berbohong, setiap kali ’self-esteem’ mereka menurun.

Mengapa berbohong dapat menurunkan self-esteem? Hal ini berhubungan dengan rasa bersalah karena melakukan ‘pelanggaran’. Kita tahu, dan diajarkan bahwa berbohonga adalah dosa. Berbohong adalah salah. Sama dengan melanggar peraturan atau konsensus yang telah disepakati bersama, norma, etika, atau hukum positif.

Kita dari sejak lahir telah diprogram untuk ‘tidak melanggar peraturan’. Dan itu menjadi standar etika kita dalam hidup. Sekali kita melanggar, kita akan merasa sangat bersalah. Rasa bersalah ini membuat kita merasa tidak tenang, tidak tentram, takut, dan bahkan depresi.

Ada yang berhasil mengatasi rasa bersalahnya dengan melakukan ‘tindakan yang benar’; mengakui kesalahannya dan bersedia ‘membayar’ rasa bersalahnya itu dengan apapun.

Tapi lebih banyak lagi orang-orang yang tidak bersedia mengakui rasa bersalahnya, dan sepanjang hidupnya terus ‘ditempeli’ rasa bersalah itu terus menerus. Mungkin tidak ada orang yang tahu, tapi dirinya sendiri tahu bahwa dia bersalah. Setiap kali dia mengingat rasa bersalahnya itu, setiap kali pula energinya berubah menjadi negatif yang diekspresikan dengan beragam bentuk; sedih, murung, marah, agresif, defensif, menarik diri, tidak bersemangat.

Dan ini menjadi lingkaran setan yang hampir tidak ada putusnya; Berbohong-berusaha menyelamatkan diri-merasa bersalah-berbohong lagi.

Karena itu berhati-hatilah dengan kata-kata yang anda ucapkan. Jangan berbohong, meski hanya untuk bercanda. Banyak cara bercanda yang ’save’ dan tidak mengakibatkan rusaknya self-esteem.

Ketika Orang-orang berbohong, itu berarti mereka sedang membuang keyakinan atau kemampuan yang mereka punya. Orang yang berbohong untuk ‘meninggikan diri’ berarti mereka YAKIN bahwa mereka itu RENDAH.

Orang yang berbohong untuk MENARIK PERHATIAN orang lain, berarti mereka YAKIN bahwa mereka TIDAK MENARIK.

orang yang berbohong untuk MENGHINDARI HUKUMAN, berarti mereka YAKIN bahwa MEREKA HARUS DIHUKUM LEBIH KERAS, oleh dirinya sendiri sepanjang waktu.

Orang yang berbohong agar DISUKAI, mereka YAKIN bahwa mereka TIDAK DISUKAI.

Orang yang berbohong tentang JUMLAH GAJINYA, berarti mereka yakin GAJI MEREKA KECIL.

Begitulah teman, untuk alasan apapun–saya tidak sedang membahas white-lying–berbohong itu tidak bagus.

Berbohong dapat mengakibatkan kesedihan, kemurungan, rendah diri, dan impotensi, lhooo? Sorry, yang terakhir saya tidak yakin. Tapi bisa jadi juga ya, orang yang dekejar rasa bersalah karena berbohong jadi depresi, terus gairah seksualnya menurun, dan yah, itu tadi : impotensi.

Salam sukses :)

1 Comment »

Sepertinya untuk kata impotensi pada bahasan diatas ada benarnya juga karena setiap orang yang berbohong pasti tidak akan tenang hidupnya,dia akan dihantui terus dengan kesalahannya akibatnya bisa jadi berakibat pada depresi/tekanan pada dirinya.Rasa stress akan membuat alirang darah tidak dapat mengalir dengan lancar yang berakibat pula pada impotensi seseorang.

January 10th, 2010 | 11:43 am
Leave a Reply

Comment

Black&white Wordpress Theme. Design: xns.ru & Moscow night photography.