maisyafree.com |

Blog Inspirasi Motivasi Bisnis Jaringan Internet
RSS Feed

Anak Unta Protes

Monday Oct 5, 2009

anak unta protes Anak Unta ProtesAnak Unta Protes

Disuatu siang yang terik, seekor anak unta bertanya penasaran kepada induknya yang asyik mengunyah rumput.

“Bu, kenapa sih kita punuk?”

“Oh, itu untuk menampung air, nak. Agar kita punya persediaan air di tengah gurun yang kering.”

“Oh untuk menampung air ya… “ kata si anak unta manggut-manggut. Lalu dia bertanya lagi.

“Terus kenapa bibir kita kok tebal sekali?”

“Nak, bibir kita yang tebal ini begitu kuat, agar tidak terluka ketika kita menggigit kaktus yang banyak air. Kan kita susah nyari air di gurun.”

“Ooo… gitu ya Bu, biar enggak luka.” Anak unta itu manggut-manggut lagi. Tapi dia masih menyimpan pertanyaan lagi untuk induknya.

“Kalau mata kita ini bu, kok meski ketutup tetap bisa melihat?”

“Di gurun itu banyak badai pasir, Nak. Bersyukurlah kita karena bisa tetap bisa melihat biar kelopak mata kita tertutup. Jika tidak, kita tidak bisa terus berjalan, karena tidak bisa melihat jika ada badai yang sampai berjam-jam.”

“Waw, hebat ya Bu.” Decak kagum si anak unta berlanjut dengan pertanyaan lagi.

“Tapi Bu, kok kulit kita ini tebal sekali ya? Kan berat Bu.”

“Kita harusnya bangga Nak, kulit kita yang tebal ini sebagai cadangan lemak supaya kita bisa bertahan tanpa makanan dalam waktu yang lama. Kan ibu sudah bilang, di gurun itu susah nyari makan. Kulit tebal kita yang banyak lemaknya ini juga kuat lho untuk menahana dingin yang menusuk kalo malam. Hebat kan?”

“Iyaa… ibu hebat. Eh, kita hebat!” Tapi tak lama kemudian.

“Bu… Bu… kalau kaki kita ini, kok telapaknya tidak seperti telapak kaki om kuda yang keras itu?”

“Itulah justru kelebihan kita disbanding om Kuda, Nak. Kita dapat berjalan di atas pasir yang panas dan lembut, tapi tidak terperosok. Karena telapak kaki kita yang dapat menyesuaikan dengan pasir yang panas dan mencengkeram pasir dengan baik.”

“Lalu Bu… “

“Sudah… jangan bertanya lagi. Ibu capek menjawab pertanyaanmu.”

“Bukan begitu Ibu, saya masih bingung dengan pertanyaan terakhir ini.”

“Baiklah, satu lagi pertanyaan. Apa itu, Nak?”

“Iya, kita diberi begitu banyak kehebatan dalam tubuh kita ini agar dapat bertahan hidup di tengah alam gurun yang panas, kering, keras, dan penuh dengan bahaya kan Bu?”

“Iya, lalu?”

”Lalu… mengapa kita sekarang tinggal di kebun binatang yang sempit dan tidak ada kaktusnya?”

* * *

Cerita yang saya dapat dari sebuah majalah yang saya lupa namanya selalu membuat saya ngakak. Begitu cerdasnya si pembuat cerita yang menyindir saya tapi saya justru tertawa ngakak membacanya.

Tapi, yang lebih menarik adalah, bahwa dalam cerita itu saya selalu diingatkan bahwa kita dibekali potensi yang hebat (by default) oleh Maha Mencipta yang Maha Hebat.

Sayangnya, saya sering dengan sengaja masuk sendiri ke ‘kandang binatang’ tanpa harus disuruh-suruh oleh pawang. Bukan apa-apa kebun binatang itu kan enak, ga harus susah-susah nyari makan, ada yang nyediain minum setiap hari. Pokoknya nyantai-lah!

Hanya saja, semakin lama saya hidup di kebun binatang yang nyaman itu, saya semakin kehilangan jati diri saya sebagai manusia. Kehilangan potensi saya sebagai manusia yang banyak akal, hebat, kritis, mampu bertahan menghadapi tekanan, selalu mencari jalan, tidak putus asa, dan selalu berhasrat untuk terus maju sampai batas tertinggi sebagai manusia.

Iya, saya sering mengalami hal itu; terjebak dalam kandang yang saya buat sendiri.

Seperti anak unta yang nantinya lama kelamaan akan kehilangan kekuatan dirinya yang hebat itu karena seumur hidupnya tinggal di kebun binatang yang nyaman tidak seperti gurun yang keras. Lebih dari itu, Unta akan kehilangan harkat dirinya sebagai “Strongest Adventurer” sebab dia tidak pernah lagi menjelajah kecuali mengitari kandangnya yang berpagar itu.

Lalu, saya hanya ingin berlaku nyinyir seperti anak unta itu;

Kalau kita manusia dibekali otak yang berpotensi mengendaliklan segala hal menjadi lebih baik. Kita dibekali kekuatan keinginan yang mampu menciptakan apapun yang kita inginkan. Kita dibekali pilihan bebas agar dapat bertindak secara bertanggungjawab dan tidak menyalahkan pihak ketiga. Kita diberi kemampuan merencanakan, mengekseskusi dan menikmati hasil dari pekerjaan kita. Kita mampu mengenali manusia-manusia yang kemampuannya lebih hebat dari kita.

Jadi, Mengapa sekarang kita masih tinggal di kandang pikiran yang selalu sinis dan sempit memandang dunia?

Salam sukses! ?

Leave a Reply

Comment

Black&white Wordpress Theme. Design: xns.ru & Moscow night photography.